Business Mission To Indonesia Taks Force Meeting Ro-Ro Bitung-Davao/General Santos (Dalam Rangka Persiapan Peluncuran Pelayaran Perdana Konektivitas Laut Bitung-Davao/General Santos)

Pada pertemuan yang dilaksanakan tanggal 18-19 Januari 2017 tersebut Delegasi Indonesia dipimpin oleh Netty Muharni, Asisten Deputi Kerjasama Ekonomi Regional dan Sub Regional/Ketua Task Force Indonesia, Delegasi Filipina dipimpin oleh Fernando Juan Perez, Assistant Secretary of Dept.of Transportation, Sulawesi Utara diwakili oleh Muhammad R. Mokoginta, SE, M.TP, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Prov. Sulut.

Pertemuan diawali dengan kunjungan kepada Gubernur Sulawesi Utara yang sangat mendukung untuk segera dioperasionalisasikan konektivitas laut rute BDG. Untuk itu akan dilakukan sosialisasi kepada berbagai wilayah yang ada di bagian Timur guna memanfaatkan rute BDG dan juga diperluas tidak hanya untuk mengangkut barang tapi juga penumpang.

Filipina menyampaikan update mengenai kesiapan Pelabuhan di Davao (Kudos) dan General Santos (Makar) beserta spesifikasi dari Super Shuttle Ro-Ro 14 yang akan dioperasikan baru untuk barang, namun tidak menutup kemungkinan akan mengangkut penumpang di masa mendatang.

PT Pelindo IV secara teknis menyampaikan kesiapan pelabuhan bitung yang akan menerima Kapal SS 14 dan akan diterima di Pelabuhan Konvensional (Nusantara). Sedangkan secara lebih detail akan dijelaskan pada saat kunjungan dilapangan.

Perwakilan Indonesia yang terkait dengan CIQ menyampaikan bebagai aturan yang berlaku di Indonesia khususnya di Pelabuhan Bitung. Sebagai contoh, untuk perusahaan yang mempunyai Prime Over sendiri maka pada saat mendarat perlu diperhatikan bahwa Prime Over tersebut apakah akan meninggalkan kawasan pelabuhan atau tidak. Jika meninggalkan area pelabuhan maka akan dikenakan aturan mengenai impor barang sementara, sedangkan jika tidak keluar maka tidak dikenakan biaya.

Jenis barang yang akan diekspor dan impor oleh Filipina, telah diidentifikasi produk yang akan diekspor masuk melalui Bitung antara lain: makanan dan minuman, produk halal, buah segar, bahan baku. Sedangkan untuk impor ke Filipina diharapkan antara lain: gula, kacang, jagung, furniture, semen, produk pertanian. Sedangkan dari Indonesia, produk yang memungkinkan dilakukan ekspor antara lain: kopra, bungkil kopra, CPO. Untuk impor barang akan dilakukan pembahasan terlebih dahulu.

Setelah pertemuan tersebut dilanjutkan dengan Rapat bersama Para Pelaku Usaha yang ada di Sulawesi Utara. Pelaku usaha sangat mengharapkan dukungan dari Pemerintah Daerah dalam mendorong pelaku usaha untuk menarik pengusaha dari Bitung dan juga daerah sekitarnya agar mau melakukan perdagangan internasional melalui pelabuhan Bitung.