201701271

Kemenperin perkuat kemitraan IKM

Kementerian Perindustrian memperkuat kemitraan industri kecil dan menengah (IKM) dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan industri besar untuk memperluas akses pasar, menumbuhkan wirausaha baru dan mendorong pemerataan kesejahteraan masyarakat.

“Kerja sama dalam bentuk kemitraan merupakan salah satu strategi yang perlu dilakukan untuk pengembangan IKM nasional agar mampu berdaya saing global,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih pada acara Temu Bisnis antara IKM dengan BUMN dan Industri Besar di Jakarta, Kamis (26/1), dalam siaran pers.
IKM memiliki peran penting dalam mewujudkan tujuan pembangunan negara sekaligus sebagai sektor yang mampu diandalkan untuk mendukung ketahanan ekonomi.
Hampir 90 persen perekonomian dunia ditopang IKM sehingga pemerintah terus memberikan perhatian lebih kepada IKM melalui fasilitas, salah satunya adalah Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).
Pada pertemuan tersebut, 40 IKM yang berasal dari sentra logam di daerah Ceper, Klaten dan Tegal dipertemukan dengan BUMN dan industri besar potensial.
Kemenperin mencatat 300 IKM di sentra logam Ceper, Jawa Tengah telah menyerap tenaga kerja mencapai 3.200 orang. Produk mereka antara lain adalah perlengkapan PDAM, pompa air, manhole, anak timbangan dan pemberat.
Di sentra IKM logam Tegal terdapat lebih dari 2.429 unit usaha, berjumlah tenaga kerja mencapai 1.500 orang, memproduksi komponen untuk mesin pertanian, perkapalan, mesin berat dan otomotif.
Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut Kemenperin, Endang Suwartini, mengatakan IKM logam memiliki potensi pasar yang cukup besar di lingkungan industri besar dan BUMN.
IKM di Ceper, misalnya, omset yang berputar pada 2015 mencapai Rp22,5 miliar. Sinergi dengan BUMN dan industri besar diharapkan mampu meningkatkan omset.
Pertemuan bisnis tersebut, selain mendapat kepastian pasar, IKM juga dapat belajar memperbaiki kualitas produk, SDM, sistem manajemen mutu, serta meningkatkan akses informasi dan teknologi.
PRESIDEN

Presiden Luncurkan Fasilitas Kemudahan Ekspor Industri Kecil

Presiden Joko Widodo akan meluncurkan Kebijakan Fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor bagi Industri Kecil dan Menengah (KITE IKM) di Sentra Kerajinan Tembaga Tumang, Kabupaten Boyolali, pada pagi ini. KITE IKM ini diharapkan dapat membantu para pelaku usaha yang bergerak di industri kecil dan menengah agar dapat meningkatkan ekspor.

Apalagi, kontribusi IKM Indonesia terhadap ekspor nasional masih relatif rendah dibandingkan negara lain di kawasan Asia Pasifik. Kontribusi sektor IKM terhadap ekspor Indonesia tahun 2015, hanya 15,8 persen. Angka itu masih jauh lebih kecil dari negara di Asia Tenggara, seperti Thailand yang memiliki kontribusi sektor IKM terhadap ekspor 29,5 persen dan Filipina 20 persen.

“Fasilitas ini dimaksudkan untuk membantu IKM dalam menggiatkan sektor usahanya,” kata Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Senin (30/1/2017).

Bey menerangkan, insentif fiskal dan kemudahan prosedur yang diberikan juga bertujuan untuk membuat IKM lebih bergairah. Sehingga ekspor dapat meningkat, kontribusi terhadap produk domestik bruto lebih besar. Selain itu, penyerapan tenaga kerja bisa lebih tinggi, serta menciptakan desa-desa wisata IKM.

“Sebelum meluncurkan Kebijakan Fasilitas KITE dan IKM, Presiden Joko Widodo akan meresmikan Pasar Sambi Boyolali yang telah selesai direvitalisasi,” ujar dia.

Di lokasi yang sama, Presiden dijadwalkan menyaksikan penandatanganan MoU antara Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto tentang Pengembangan Industri Kecil dan Industri Menengah (IKM) dalam lingkup Pembiayaan Penjaminan Asuransi serta Jasa Konsultasi IKM Berorientasi Ekspor.

Pada siang hari, Presiden juga diagendakan menyerahkan Kartu Indonesia Pintar di SMKN 1 Mojosongo, Boyolali. Pada sore hari, Presiden Joko Widodo akan bersilaturahmi dengan jajaran TNI-POLRI se-Solo Raya.

Sebelum kembali ke Jakarta pada malam hari nanti, mantan Gubernur DKI jakarta itu dijadwalkan akan meresmikan pembukaan Rapat Kerja Nasional APPSI di Kabupaten Karanganyar.

(FZN)

 

sumber: http://ekonomi.metrotvnews.com/mikro/Gbm3eZLK-presiden-luncurkan-fasilitas-kemudahan-ekspor-industri-kecil

003232200_1469614318-20160727-Menteri-Perindustrian-Airlangga-Hartarto-Fanani-1

Pemerintah Targetkan Nilai Produksi IKM Rp 24 Triliun pada 2017

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan nilai produksi industri kecil dan menengah (IKM) alas kaki sebesar Rp 24,25 triliun pada 2017. Angka ini meningkat dibandingkan dengan 2016 sebesar Rp 22,98 triliun.‎Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, industri alas kaki menjadi salah satu industri yang diprioritaskan pengembangannya. Ini karena industri tersebut berperan dalam memberikan kontribusi terhadap devisa negara dan penyerapan tenaga kerja.”Pada 2016, penambahan investasi IKM alas kaki diperkirakan sebesar Rp 2,8 triliun dengan nilai produksinya mencapai Rp 22,98 triliun. Kami memproyeksikan, nilai produksi sektor ini akan meningkat pada 2017 sebesar Rp 24,25 triliun,” ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (4/1/2017).Airlangga menyampaikan, secara umum, rata-rata nilai investasi yang ditanamkan untuk menjalankan usaha IKM alas kaki di dalam negeri sebesar Rp 37 juta. Sementara itu, untuk menghasilkan produknya, diperlukan bahan baku utama yang rata-rata senilai Rp 6,5 juta dalam satu bulan.

“Sedangkan, nilai produksi penjualan dari hasil industri ini rata-rata dalam satu bulan menghasilkan pemasukan Rp 14 juta. Dengan hasil produksi tersebut didapatkan nilai tambah rata-rata sebesar Rp 6,8 juta dalam satu bulan,” kata dia.Airlangga menuturkan, IKM alas kaki mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja, dengan karakteristik jumlah pekerja di setiap satu unit usaha sekitar 1-19 orang. Berdasarkan data BPS pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 15 (KBLI-15), IKM alas kaki tergabung dalam kelompok IKM penyamakan kulit dan produk kulit. Data pada 2010, menunjukkan, kelompok usaha tersebut berjumlah 32.910 unit dengan jumlah penyerapan tenaga kerja mencapai 114.495 orang di seluruh Indonesia.”Dari data tersebut, sebanyak 49 persen merupakan IKM alas kaki, selanjutnya 48 persen IKM produk kulit dan 3 persen IKM penyamakan kulit. Sedangkan, penyerapan tenaga kerja pada masing-masing sektor, sebanyak 51 persen terserap di IKM alas kaki, disusul 46 persen di IKM produk dari kulit dan sisanya 3 persen di IKM penyamakan kulit,” jelas dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, kemajuan IKM alas kaki secara langsung akan memajukan industri kreatif. Dan sebaliknya industri kreatif yang maju akan menjadikan sebuah kota atau suatu daerah berkembang menjadi sumber destinasi pariwisata. “Diperkirakan, pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki pada 2016 sebesar 7,74 persen dan hingga Oktober 2016, ekspor produk alas kaki dari Indonesia mencapai US$ 3,7 miliar,” kata dia.Gati menyampaikan, program dan kebijakan pengembangan daya saing IKM alas kaki nasional, antara lain program pengenaan pajak ekspor bahan baku kulit dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku dalam negeri serta penguatan branding produk dalam negeri melalui sepatu Ekuator. ”

Pada 2017, kami akan memacu awareness pasar terhadap branding sepatu Ekuator melalui pembuatan tipe baru dan peningkatan promosi,” lanjut dia.Kemenperin mencatat, dari sebaran industri kecil dan menengah alas kaki di seluruh Indonesia, sebanyak 49,62 persen di Jawa Barat dan 32,30 persen di Jawa Timur. “Konsentrasi di Jawa Barat berada di daerah Bogor, Bandung, dan Tasikmalaya, sedangkan untuk Jawa Timur di daerah Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto. Jombang dan Magetan,” ujar Gati.

 

sumber: http://bisnis.liputan6.com/read/2719827/pemerintah-targetkan-nilai-produksi-ikm-rp-24-triliun-pada-2017

068163100_1485768711-Peluncuran_KITE_IKM-OK

Pengusaha UMKM Dapat Bebas Bea Masuk dan Pajak, Ini Syaratnya

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) telah meluncurkan fasilitas terbaru bernama Kemudahan Impor Tujuan Ekspor untuk Industri kecil dan menengah (KITE IKM) dengan tujuan meningkatkan ekspor. Fasilitas yang membebaskan bea masuk dan pajak-pajak terutang ini diharapkan dapat menarik minat para pelaku usaha IKM.

Selepas peluncuran fasilitas KITE IKM di Desa Tumang, Boyolali, Jawa Tengah, Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi menjelaskan prosedur untuk mendapatkan fasilitas tersebut.

“Untuk mendapatkan fasilitas, badan usaha yang tergolong dalam IKM harus mengajukan permohonan dengan memenuhi beberapa kriteria,” ungkap Heru dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (30/1/2017).

Dia menambahkan, kriteria yang diperlukan bagi IKM untuk memperoleh fasilitas ini, antara lain pertama, memiliki kegiatan IKM yang dibuktikan dengan izin usaha industri.

Kedua, IKM juga harus bersedia untuk mengoperasikan modul kepabeanan yang diciptakan khusus untuk fasilitas KITE IKM, dan sudah memiliki lokasi usaha paling kurang dua tahun.

Ketiga, para pelaku usaha juga harus menyerahkan dokumen di antaranya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak, surat rencana produksi, serta surat pernyataan yang disahkan oleh notaris.

“Permohonan tersebut dapat diajukan di kantor-kantor Bea Cukai. Petugas kami akan menindaklanjuti permohonan tersebut dengan waktu paling lama 14 hari kerja sejak berkas permohonan diterima lengkap,” tutur Heru.

Fasilitas yang diberikan pemerintah ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pelaku usaha IKM.

“Dengan adanya fasilitas ini diharapkan IKM dapat semakin bergairah dalam memasarkan produknya ke luar negeri. Selain itu, tenaga kerja yang terserap juga diharapkan dapat semakin meningkat,” tutur Heru.

 

sumber: http://bisnis.liputan6.com/read/2841491/pengusaha-umkm-dapat-bebas-bea-masuk-dan-pajak-ini-syaratnya

cara-agar-produk-indonesia-diminati-di-luar-negeri-tjs

Cara agar Produk Indonesia Diminati di Luar Negeri

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan, peningkatan nation branding Indonesia menjadi satu faktor penting demi menggaet perhatian serta menarik minat dan kepercayaan dunia internasional terhadap produk-produk Indonesia.

Untuk itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Arlinda menyatakan, butuh upaya terstruktur, sinergis, terintegrasi, simultan, dan berkelanjutan untuk membangun citra positif Indonesia dengan merangkul semua pihak terkait.

Indonesia Night, kata dia, terselenggara berkat kerja sama Kemendag dengan BKPM, Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Jenewa, Swiss, KBRI di Bern, Swiss, dan Komunitas Bisnis Indonesia yang menjadi anggota World Economic Forum (WEF).

“Demi meningkatkan nation branding Indonesia yang positif, semua pihak harus senantiasa bekerja keras dan bersinergi dalam meningkatkan kinerjanya masing-masing. Sehingga memperoleh hasil kinerja yang terus meningkat,” ujar dia dalam rilisnya di Jakarta, Kamis (19/1/2017).

Usai berdiskusi, dia menyampaikan, para tamu disuguhi sajian aneka kuliner nusantara yang memeriahkan suasana Indonesia Night 2017. Menu khas nusantara yang memanjakan para tamu antara lain lumpia sayur, soto bandung, nasi kecombrang, nasi ijo, nasi kuning, rendang, dan lain-lain.

Camilan khas Indonesia pun tidak ketinggalan memanjakan lidah para tamu yakni sekoteng, pisang gencet, singkong goreng, dan urap jagung.

“Pengalaman merasakan keramahtamahan Indonesia juga dimeriahkan lewat pertunjukan seni dan budaya seperti keroncong,” kata Arlinda.

(izz)

sumber: http://ekbis.sindonews.com/read/1172279/34/cara-agar-produk-indonesia-diminati-di-luar-negeri-1484801977

067506100_1434741880-Cabai-Naik-2

Harga Cabai Rawit Merah Berangsur Turun

Akhir-akhir ini pemerintah dan masyarakat ‎dipusingkan dengan tingginya harga cabai rawit merah di pasaran. Di beberapa daerah, harga cabai rawit merah hampir setara dengan harga daging sapi bahkan ada juga yang melebihi.

Namun dalam beberapa hari terakhir, harga cabai rawit merah mulai melandai. Di Pasar Mampang, Jakarta Selatan, harga cabai rawit merah mulai berangsur turun. Setidaknya per kilogram (kg) kini sudah dibandrol Rp 100 ribu per kg.

“Sudah mulai turun dibanding minggu lalu, ini sudah turun Rp 5 ribu sampai Rp 8 ribu per kilonya,” kata salah satu pedagang, Endang (46).

Turunnya harga cabai rawit merah tersebut, dikatakan Endang memang dari Pasar Induk Kramat Jati yang juga sudah mulai menurun. Untuk itu, diharapkannya, tren tersebut terus berlanjut.

Meski demikian, harga cabai rawit merah ini hanya satu-satunya bahan pangan yang mengalami penurunan. Beberapa bahan pangan lainnya justru menunjukkan kenaikan dan ada yang harganya tetap.

“Ini yang naik justru malah bawang putih, ada kenaikan Rp 2 ribu per kilonya,” ujar pedagang lainnya, Hartini (51).

Harga bawang putih di pasar dibadrol seharga Rp 40 ribu per kg. Sedangkan untuk bawang merah harganya tetap yaitu Rp 36 ribu per kg.

Kenaikan juga terjadi di harga cabai merah keriting sebesar Rp 1 ribu per kg menjadi Rp 52 ribu per kg.‎ Dan cabai rawit hijau dari sebelumnya Rp 86 ribu menjadi Rp 88 ribu per kg. Sedangkan untuk harga cabai merah besar tetap di Rp 40 ribu per kg.

Sementara untuk sembako, sebagian besar harga tidak mengalami perubahan, seperti telur ayam dihargai Rp 23 ribu per kg, gula pasir Rp 14 ribu per, tepung terigu Rp 8 ribu per kg, beras IR 64 Ramos Rp 10 ribu per kg, beras premium Rp 12 ribu per kg, dan minya goreng curah Rp 13 ribu per kg.

Sedangkan untuk harga ayam potong per ekornya dibandrol Rp 30 ribu dan daging sapi masih bertengger di Rp 120 ribu per kg. (Yas/Gdn)‎